Dalam kehidupan seorang Muslim, semangat beribadah tidak selalu berada pada titik yang sama. Ada saat-saat ketika hati terasa begitu dekat kepada Allah, ibadah terasa ringan, doa mengalir dengan khusyuk, dan langkah menuju kebaikan terasa mudah. Namun ada juga masa ketika hati melemah, semangat menurun, dan ibadah dijalani sekadarnya. Di sinilah istiqomah menjadi sangat penting.
Ustad Sahrin Manalu mengingatkan bahwa istiqomah bukan berarti seseorang selalu berada dalam puncak keimanan setiap waktu. Istiqomah adalah kesungguhan untuk tetap berada di jalan Allah, tetap menjaga ibadah, dan terus kembali kepada-Nya meskipun hidup dipenuhi ujian, kesibukan, dan godaan dunia.
Istiqomah adalah tanda cinta seorang hamba kepada Rabb-nya. Orang yang benar-benar mencintai Allah tidak hanya ingat kepada-Nya saat sedang susah, tetapi juga tetap taat saat hidup terasa lapang. Ia tidak hanya rajin beribadah saat mendengar nasihat yang menyentuh hati, tetapi juga tetap menjaga amal dalam kesehariannya, walau tidak selalu diliputi semangat yang besar.
Di zaman sekarang, menjaga istiqomah bukan perkara mudah. Banyak hal yang dapat mengalihkan perhatian manusia dari ibadah: pekerjaan, urusan rumah tangga, tuntutan ekonomi, hingga hiburan yang tanpa sadar melalaikan. Karena itu, istiqomah bukan hanya soal niat, tetapi juga tentang perjuangan yang terus dihidupkan setiap hari.
Ustad Sahrin Manalu menekankan bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang dilakukan terus-menerus walaupun sedikit. Pesan ini sangat menenangkan. Tidak semua orang mampu melakukan amal besar setiap hari, tetapi setiap Muslim bisa memulai dari hal-hal kecil: menjaga salat lima waktu, membaca Al-Qur’an beberapa ayat, berdzikir setelah salat, bersedekah sesuai kemampuan, dan menjaga lisan dari ucapan yang melukai orang lain.
Salah satu pelajaran besar tentang istiqomah dan keyakinan kepada pengawasan Allah dapat kita lihat dari kisah seorang penggembala domba. Dikisahkan ada seseorang yang tertarik melihat banyak domba yang sedang digembalakan. Lalu ia mendekati penggembala itu dan mencoba merayunya untuk menjual seekor domba kepadanya secara diam-diam.
Orang itu berkata kurang lebih, “Juallah satu ekor domba itu kepadaku. Pemiliknya tidak akan tahu. Dombanya banyak, ia tidak tahu persis jumlahnya.”
Secara logika manusia, tawaran itu tampak mudah dilakukan. Tidak ada yang melihat. Pemilik domba tidak berada di tempat. Jumlah domba pun sangat banyak sehingga mungkin tidak akan disadari bila berkurang satu ekor. Namun penggembala itu menolak. Ia tidak tergoda oleh kesempatan yang tampak aman di mata manusia.
Dengan hati yang penuh keyakinan, ia menjawab, “Kalau begitu, di mana Allah?”
Jawaban itu singkat, tetapi mengguncang hati. Penggembala itu sadar bahwa meskipun manusia tidak melihat, Allah melihat. Meskipun pemilik domba tidak tahu, Allah Maha Tahu. Meskipun perbuatan itu bisa disembunyikan dari dunia, ia tidak pernah tersembunyi dari pengawasan Rabb semesta alam.
Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa istiqomah bukan hanya soal rajin beribadah di hadapan orang lain, tetapi juga tentang keteguhan hati saat tidak ada manusia yang mengawasi. Inilah yang disebut dengan muraqabah, yaitu merasa selalu dilihat oleh Allah dalam setiap keadaan. Ketika keyakinan ini hidup di dalam hati, maka seseorang akan lebih mudah menjaga amanah, menjaga kejujuran, dan menjaga ibadahnya.
Penggembala domba itu mungkin bukan orang terkenal, bukan pula orang yang dipuji banyak manusia. Namun keistiqomahannya dalam menjaga amanah membuatnya mulia di sisi Allah. Ia menunjukkan bahwa iman yang hidup di dalam hati akan melahirkan sikap yang lurus dalam tindakan.
Begitulah seharusnya seorang Muslim menjalani hidup. Ketika sendirian, ia tetap jujur. Ketika ada kesempatan untuk berbuat curang, ia tetap takut kepada Allah. Ketika tidak ada yang memuji ibadahnya, ia tetap sujud. Ketika tidak ada yang menilai amalnya, ia tetap berbuat baik. Karena tujuan utamanya bukan penilaian manusia, melainkan ridha Allah.
Sering kali orang merasa kecil hati karena melihat orang lain tampak lebih saleh, lebih rajin, atau lebih berilmu. Padahal yang terpenting bukanlah siapa yang terlihat paling hebat, melainkan siapa yang tetap bertahan di jalan Allah dengan ikhlas. Allah tidak menilai penampilan lahiriah semata, tetapi melihat hati, niat, dan kesungguhan hamba-Nya.
Istiqomah juga menuntut kejujuran kepada diri sendiri. Bila hari ini masih lalai, maka besok berusaha lebih baik. Bila hari ini belum sempat membaca Al-Qur’an, maka esok dicoba meski hanya beberapa ayat. Bila hari ini hati terasa jauh, maka jangan berhenti berdoa agar Allah mendekatkan kembali hati itu kepada-Nya.
Menurut Ustad Sahrin Manalu, salah satu kunci istiqomah adalah menjaga lingkungan yang baik. Berteman dengan orang-orang yang mencintai masjid, gemar menghadiri majelis ilmu, dan suka saling mengingatkan dalam kebaikan akan membantu hati tetap hidup. Sebaliknya, lingkungan yang lalai dapat perlahan menjauhkan seseorang dari ibadah tanpa ia sadari.
Selain itu, istiqomah harus dibangun dengan niat yang lurus. Ibadah tidak boleh dikerjakan demi pujian, demi citra, atau demi penilaian manusia. Ibadah yang kokoh adalah ibadah yang dilakukan semata-mata karena Allah. Ketika niat lurus, seseorang akan tetap beribadah walau tidak dilihat siapa pun, sama seperti penggembala domba yang menolak berkhianat karena ia sadar Allah senantiasa melihat.
Kita juga perlu memahami bahwa istiqomah bukan berarti tidak pernah jatuh. Seorang hamba bisa saja lemah, khilaf, bahkan futur. Namun orang yang istiqomah tidak akan membiarkan dirinya terus tenggelam dalam kelalaian. Ia akan bangkit, bertaubat, dan kembali melangkah di jalan ketaatan.
Ibadah yang dijaga dengan istiqomah akan melahirkan ketenangan jiwa. Hati menjadi lebih lapang, hidup lebih terarah, dan ujian terasa lebih ringan dijalani. Bukan karena masalah langsung selesai, tetapi karena hati yang dekat dengan Allah memiliki kekuatan untuk menghadapinya. Itulah salah satu buah manis dari istiqomah.
Melalui nasihatnya, Ustad Sahrin Manalu mengajak umat agar tidak menunggu sempurna untuk mulai rajin beribadah. Jangan menunggu hati tenang baru salat dengan sungguh-sungguh. Jangan menunggu waktu luang baru membaca Al-Qur’an. Jangan menunggu kaya baru bersedekah. Mulailah dari sekarang, dari yang kecil, dari yang mampu.
Pada akhirnya, istiqomah adalah perjalanan seumur hidup. Ia bukan semangat sesaat, tetapi komitmen yang terus diperbarui setiap hari. Maka marilah kita memohon kepada Allah agar diberi hati yang teguh, langkah yang lurus, dan keikhlasan dalam setiap ibadah yang kita lakukan.
Semoga nasihat tentang istiqomah dalam ibadah oleh Ustad Sahrin Manalu ini menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa keimanan yang sejati akan tampak bukan hanya saat dilihat manusia, tetapi juga saat kita sendirian. Seperti penggembala domba itu, marilah kita menanamkan keyakinan bahwa Allah selalu melihat, Allah selalu mengetahui, dan kepada-Nya lah kita mempertanggungjawabkan seluruh amal kehidupan.